√Budidaya Ikan Sumatra®

Cara Budidaya Ikan Sumatra Di Aquarium – Ikan Sumatra adalah sejenis ikan kecil anggota suku Cyprinidae anak-suku Cyprininae. Nama tersebut adalah nama perdagangannya sebagai ikan hias. Dalam bahasa Inggris, ikan ini dikenal sebagai sumatra barb atau tiger barb.

Budidaya Ikan Sumatra

Teknik Budidaya Ikan Sumatra

Berikut dibawah ini terdapat beberapa teknik budidaya ikan sumatra, terdiri atas:


A. Pemerian

Ikan yang berukuran kecil, dengan panjang total (beserta ekor) mencapai 70mm. Tubuh berwarna kekuningan dengan empat pita tegak


Sekitar mulutnya, sirip perut dan ekor berwarna kemerahan. Sirip punggung dan sirip dubur berwarna hitam, namun warna hitam pada sirip punggung dibatasi oleh garis merah. Jenis yang diperdagangkan, selain yang berwarna kekuningan, ada pula individu yang kemerahan, kehijauan dan albino.


Jenis yang berwarna kehijauan, yang sebetulnya adalah gejala melanisme pada ikan sumatra, dan yang berwarna albino merupakan hasil dari pembiakan selektif dalam penangkaran untuk meningkatkan nilai jual ikan ini.


B. Persiapan Pemijahan

berwarna gelap, pita yang pertama melewati mata dan yang terakhir pada pangkal ekor. Gurat sisi tak sempurna, 22-25 buah dengan hanya 8-9 sisik terdepan yang berpori. Batang ekor dikelilingi 12 sisik. Tinggi tubuh sekitar setengah kali panjang standar (tanpa ekor).

  1. Ikan dewasa Panjangnya bisa mencapai 6 cm dapat dipijahkan secara massal atau berpasangan pada tempat yang tidak terlalu luas. Tempat pemijahan berupa bak semen atau akuarium dilengkapi dengan substrat atau tanaman air sebagai tempat menempelkan telur.
  2. Toleransinya terhadap suhu , yaitu sekitar 20-60oC, pH netral sampai basa. Suhu optimal untuk pemijahannya 25oC dan kesadahan rendah, tinggi air dalam bak lebih kurang 30 cm, untuk mencegah jamur pada telur nanti sebaiknya air pada bak pemijahan diberikan obat anti jamur atau methylene blue dengan konsentrasi rendah.
READ MORE :  √Ikan Air Tawar®

C. Pemilihan Induk

Terdiri atas:

  • Umur calon induk sama dengan 3 bulan atau lebih, panjang .
  • Induk betina bila telah matang kelamin perutnya membulat serta lembek jika diraba, warna tubuhnya biasa saja.
  • Sebaliknya, ikan jantan lebih ramping dan warna tubuhnya mencolok. Ikan jantan yang telah matang kelamin sering berubah warna.

D. Pemijahan Induk

Terdiri atas:

  1. Substrat atau Tanaman air hydrilla yang telah dicuci bersih dimasukan kedalam bak pemijahan. Induk hasil seleksi dilepaskan sore hari dengan perbandingan jantan dan betina 1 : 1.
  2. Pemijahan mulai terjadi malam atau pagi hari sebelum jam 10.
  3. Substrat atau Tanaman air sebagai tempat menempel telur harus dikontrol untuk mengetahui ikan sudah bertelur atau belum.
  4. Hal ini sangat penting karena telur sangat kecil dan berwarna bening ,selesai pemijahan induk segera ditangkap dan dipindahkan ke tempat lain, sedangkan telur yang menempel pada tanaman air tetap dibiarkan pada bak pemijahan sampai menetas.
  5. Telur akan menetas dalam waktu 2 hari. Paling lambat 3 hari.

E. Pemeliharaan larva

Terdiri atas:

  • Pada minggu pertama, larva diberi infusoria,rotifera atau kutu air saring karena masih lemah, belum aktif, dan alat pencernaannya belum terbentuk sempurna.
  • Memasuki minggu ke tiga, benih sudah lebih kuat serta aktif makapakan sudah dapat ditambah dengan pakan buatan. Pakan tambahan berupa tepung pelet halus atau cacing sutera dapat diberikan sampai akhir pemeliharaan untuk mempercepat pertumbuhan ikan umur 2 bulan ikan sudah bisa dipanen dan dipasarkan.

F. Pendederan

Pendederan adalah kegiatan pemeliharaan ikan Sumatera (Puntius tetrazona) ukuran tertentu dari hasil kegiatan pembenihan sebelum dipelihara di tempat pembesaran. Ukuran benih ikan Sumatera yang dipelihara biasanya dari ukuran 1 inchi hingga mencapai ukuran 2-3 inchi.

READ MORE :  √Cara Membedakan Cupang Hias dan Cupang Aduan®

Menurut Yuan Lie (2007) kolam pemeliharaan larva menggunakan bak semen berukuran 2 x 2 x 0,5 m. Kegiatan yang dilakukan dalam persiapan kolam dimulai dengan menyikat bak agar sisa-sisa kotoran yang menempel menjadi lepas, kemudian dilakukan pengeringan kolam dengan membuka saluran outlet dan menutup saluran inlet sampai air dalam kolam keluar semua. Setelah dibiarkan selama 2 hari, kolam diisi air setinggi 30 cm dan saluran outlet ditutup dengan menggunakan tutup saluran atau saringan halus.


Kegiatan pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk kandang sebanyak 2 kg, Urea dengan dosis 50 gr dan TSP dengan dosis 20 gr yang dimasukkan ke dalam karung dan diletakkan dibawah kucuran air masuk. Debit air yang masuk diatur sebesar 0,5 lt/dtk. Kegiatan pengapuran tidak dilakukan karena pengapuran bertujuan untuk meningkatkan kesuburan dan pH tanah, sedangkan dasar kolam terbuat dari semen.


Penebaran larva dilakukan pada pagi hari dan aklimatisasi terlebih dahulu dengan cara merendam wadah berupa kantong plastik yang terisi larva selama 15 menit dan dimasukkan air kolam secara bertahap sehingga suhu di dalam wadah sama dengan suhu di dalam kolam dan larva akan keluar dengan sendirinya.


Untuk melindungi larva dari sinar matahari, kolam pemeliharaan diberikan enceng gondok secukupnya. Pengelolaan kualitas air dengan pembuangan enceng gondok dan pembersihan sampah-sampah dan sisa metabolisme dengan menggunakan serokan.


G. Pemeliharaan di akuarium

Menurut Syaiful Akbar (2009) ikan sumatra senang berenang bergerombol. Bila dipelihara dalam jumlah kecil, kurang dari 5 ekor, ikan ini dapat menjadi agresif dan mengganggu ikan-ikan yang lain. Ikan-ikan yang lemah dan kurang gesit dapat menjadi sangat menderita akibat gigitan ikan sumatra yang dominan, yang terutama akan menyerang sirip-siripnya. Dalam kelompok yang besar, agresivitas ikan ini dapat terkendalikan.

READ MORE :  √Budidaya Ikan Discus®

Tangkas dan berenang cepat, ikan sumatra dapat dipelihara bercampur dengan ikan-ikan yang sama gesitnya seperti ikan-ikan platis, kerabat lele, atau kerabat ikan macan (Chromobotia macracanthus). Sebaiknya akuarium diisi pula dengan tumbuh-tumbuhan air sebagai tempatnya bermain-main. Ikan sumatra bersifat omnivora, dapat diberi makanan kering (buatan) atau mangsa hidup seperti cacing, kutu air atau jentik-jentik nyamuk. Ikan ini dapat dibiakkan di dalam akuarium.


Ikan sumatra betina mengeluarkan antara 150-200 butir sekali bertelur, yang disebarkan di antara tumbuh-tumbuhan air. Telur akan menetas setelah 24 jam, dan anak-anak ikan mulai terlihat aktif setelah 3 hari. Sebagai pakan anak ikan pada minggu-minggu pertama dapat digunakan udang renik.


Demikian Pembahasan Tentang Cara Budidaya Ikan Sumatra Di Aquarium

Semoga Penyampaian dalam Artikel ini Bermanfaat Bagi Semuanya…!!!